
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kejadian bencana tertinggi di dunia. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam beberapa tahun terakhir tercatat rata-rata lebih dari 3.000 kejadian bencana alam setiap tahun, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi hingga erupsi gunung berapi. Posisi geografis Indonesia di Cincin Api Pasifik menjadikan risiko tersebut sebagai realitas yang terus berulang.
Di tengah konteks tersebut, perusahaan peralatan tanggap darurat asal Korea Selatan, Golden Hour, menyatakan komitmennya untuk memasuki pasar Indonesia. Dalam wawancara khusus, CEO Golden Hour menjelaskan bahwa ekspansi ini bukan sekadar langkah bisnis, melainkan bagian dari upaya memperkuat sistem respons awal di fasilitas publik.
Respons Awal sebagai Titik Kritis
Menurut CEO Golden Hour, tantangan utama dalam penanganan bencana bukan hanya pada skala kerusakan, melainkan pada fase awal setelah insiden terjadi.
“Dalam banyak kasus, sistem penanggulangan bencana berskala nasional sudah tersedia. Namun pada 10 hingga 30 menit pertama, sebelum bantuan besar tiba, fasilitas seperti rumah sakit, sekolah, dan gedung publik sering kali menghadapi keterbatasan alat evakuasi yang praktis dan siap pakai.”
Ia menambahkan bahwa kepadatan perkotaan di kota-kota seperti Jakarta dan Surabaya, serta peningkatan gedung bertingkat, membuat proses evakuasi manual menjadi lebih kompleks, terutama bagi lansia, pasien dengan keterbatasan mobilitas, atau korban yang tidak sadar.
Alasan Memilih Indonesia
Ketika ditanya mengapa Indonesia menjadi prioritas ekspansi di Asia Tenggara, CEO Golden Hour menyampaikan bahwa faktor risiko bencana dan pertumbuhan infrastruktur berjalan beriringan.
“Indonesia memiliki populasi besar, kawasan industri yang berkembang pesat, dan fasilitas kesehatan yang terus bertambah. Di sisi lain, frekuensi bencana juga tinggi. Ini menciptakan kebutuhan struktural terhadap sistem evakuasi yang efisien di tingkat institusi.”
Ia menekankan bahwa pendekatan perusahaan tidak berhenti pada distribusi produk, tetapi juga mencakup kerja sama dengan mitra lokal untuk pelatihan penggunaan dan simulasi evakuasi.
Fokus pada Aplikasi Lapangan
Dalam wawancara tersebut, CEO Golden Hour menghindari pendekatan promosi berlebihan. Ia lebih menyoroti aspek fungsionalitas di lapangan.
“Peralatan tanggap darurat tidak perlu terlihat rumit. Yang terpenting adalah ringan, mudah disimpan, dan dapat digunakan oleh personel terbatas dalam kondisi darurat.”
Golden Hour saat ini sedang menjajaki uji coba lapangan bersama beberapa institusi di Indonesia untuk memastikan kesesuaian dengan kondisi bangunan dan prosedur keselamatan setempat.
Potensi Pasar dan Kolaborasi Jangka Panjang
Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan manajemen risiko bencana, berbagai institusi di Indonesia mulai memperkuat standar keselamatan internal. Pengamat industri keselamatan menilai bahwa pasar peralatan evakuasi darurat masih berada pada tahap awal, namun memiliki prospek pertumbuhan yang stabil, terutama di sektor kesehatan, pendidikan, dan manufaktur.
Menutup wawancara, CEO Golden Hour menyampaikan visinya:
“Bencana tidak dapat dicegah sepenuhnya, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui kesiapan. Kami melihat Indonesia bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai mitra dalam membangun sistem respons awal yang lebih kuat.”
Dengan tingkat risiko bencana yang tinggi dan kebutuhan peningkatan kapasitas respons institusional, langkah Golden Hour memasuki Indonesia mencerminkan dinamika baru dalam kolaborasi sektor swasta dan upaya pengurangan risiko bencana di tingkat operasional.
