
Inflasi tahunan tertinggi sejak pertengahan dua tahun terakhir, harga kebutuhan pokok ikut mendorong kenaikan
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia mengalami inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 3,55 persen pada Januari 2026. Data itu dirilis berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dipublikasikan pada awal Februari 2026 dan menunjukkan tekanan harga yang kembali meningkat di berbagai kelompok komoditas.
📈 Detail Inflasi
-
Inflasi tahunan Januari 2026: 3,55% (y-o-y)
-
Indeks Harga Konsumen (IHK): 109,75
Angka 3,55 persen ini menunjukkan bahwa tingkat inflasi pada periode Januari 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, ketika tekanan harga relatif lebih rendah. BPS juga mencatat bahwa pada Januari terhadap Desember 2025 terjadi deflasi ringan, meskipun nilai tahunan tetap mencerminkan tren kenaikan harga barang dan jasa.
📌 Penyebab dan Implikasi
Inflasi awal tahun ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama kenaikan harga pada kelompok pengeluaran pokok masyarakat. Komoditas seperti perumahan, energi, dan bahan pangan termasuk di antara kontributor utama inflasi. Peningkatan permintaan di awal tahun serta dinamika harga global turut memberikan tekanan terhadap harga domestik.
Para analis menilai bahwa angka ini menjadi peringatan bahwa tekanan harga mulai meningkat setelah periode relatif stabil, sehingga ketahanan harga pangan dan koordinasi kebijakan moneter tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
📍 Konteks Lebih Luas
Data Januari 2026 ini mengikuti tren kenaikan inflasi tahunan yang dilaporkan Desember 2025 sebesar 2,92 persen, yang juga menunjukkan pergerakan harga komoditas dan barang konsumsi di pasar domestik.
BPS akan merilis data inflasi bulanan berikutnya, yang akan memberikan gambaran lebih lengkap mengenai arah tren harga sepanjang tahun 2026.
