
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kejadian bencana tertinggi di dunia. Gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, hingga tanah longsor terus berulang setiap tahun, sehingga pentingnya “golden hour” kembali menjadi sorotan.
Dalam dunia medis, satu jam pertama setelah terjadinya cedera berat dianggap sebagai periode krusial yang menentukan tingkat kelangsungan hidup korban. Namun, dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau serta wilayah pegunungan yang luas, proses evakuasi korban sering menghadapi keterlambatan dan risiko cedera sekunder selama pemindahan.
Di tengah tantangan tersebut, sistem evakuasi darurat asal Korea Selatan, GoldenHour, mulai dilirik sebagai salah satu alternatif solusi. Produk ini saat ini tengah menjalani proses perizinan serta pembahasan kerja sama melalui skema ODA (Official Development Assistance).
Berbeda dari tandu konvensional, sistem GoldenHour dirancang dengan struktur tertutup dan sistem bantalan udara yang berfungsi meminimalkan guncangan eksternal selama proses evakuasi. Desain ini memungkinkan perlindungan tubuh korban secara lebih stabil, bahkan saat melewati tangga, lorong sempit, atau area terdampak reruntuhan.
Sejumlah pengamat penanggulangan bencana menilai bahwa Indonesia memerlukan solusi evakuasi yang mampu menjawab kesenjangan infrastruktur medis antarwilayah. “Keselamatan selama proses transportasi korban sangat menentukan hasil akhir perawatan. Sistem berbasis konsep golden hour berpotensi meningkatkan efektivitas respons awal,” ujar salah satu analis kebencanaan.
Skema kerja sama ODA dinilai memberi nilai tambah karena tidak hanya mencakup penyediaan alat, tetapi juga pelatihan operasional serta penguatan sistem implementasi di lapangan. Dalam jangka panjang, perangkat ini berpotensi masuk ke dalam standar operasional sistem tanggap darurat nasional.
Sebagai negara dengan kebutuhan respons bencana terbesar di kawasan ASEAN, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menjadi model penerapan sistem evakuasi modern di Asia Tenggara. Jika implementasi berjalan efektif, pendekatan ini dapat direplikasi ke negara-negara lain di kawasan.
