
Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan tingkat kejadian bencana tertinggi di dunia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia rata-rata mengalami lebih dari 3.000 kejadian bencana per tahun, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi, hingga kebakaran fasilitas publik.
Sepanjang 2023 saja, ribuan korban luka dan ratusan korban jiwa tercatat akibat berbagai peristiwa bencana. Selain dampak langsung, proses evakuasi yang tidak optimal kerap meningkatkan risiko cedera lanjutan, terutama bagi lansia, pasien rumah sakit, dan penyandang disabilitas.
Tantangan Rasio Tenaga Penolong
Dalam banyak situasi darurat, satu korban biasanya memerlukan dua hingga empat petugas untuk dipindahkan menggunakan tandu konvensional. Ketika jumlah korban banyak dan tenaga terbatas, rasio ini menjadi kendala serius.
Kondisi geografis Indonesia—yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau dan banyak wilayah dengan akses terbatas—semakin memperumit proses evakuasi. Di daerah terpencil, keterbatasan personel dan sarana transportasi medis dapat memperlambat respons pada fase awal yang krusial.
Para analis kebencanaan menilai bahwa perbaikan sistem evakuasi tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga efisiensi penggunaan sumber daya manusia.
Konsep “Satu Penolong Satu Korban”
Dalam diskusi penguatan sistem tanggap darurat, mulai muncul pendekatan yang memungkinkan satu petugas menangani satu korban secara mandiri. Model ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada jumlah personel tanpa mengurangi standar keselamatan.
Salah satu inovasi yang tengah dibahas dalam konteks kerja sama internasional adalah perangkat evakuasi berbasis struktur udara (air-based system) yang dapat mengembang dalam hitungan detik dan dilengkapi sistem roda serta mekanisme peredam kejut.
Perangkat semacam ini memiliki beberapa karakteristik utama:
-
Bobot relatif ringan namun mampu menopang beban hingga 160 kg
-
Sistem pengikat internal untuk stabilisasi korban
-
Roda dengan mekanisme rem untuk penggunaan di tangga darurat
-
Material tahan api untuk skenario kebakaran
-
Opsi perlindungan tambahan dari benturan eksternal
Pendekatan ini dinilai relevan untuk fasilitas kesehatan, gedung publik bertingkat, hingga wilayah rawan gempa.
Relevansi dengan Golden Hour
Dalam manajemen medis darurat, satu jam pertama setelah cedera berat dikenal sebagai golden hour. Periode ini sangat menentukan peluang keselamatan korban.
Jika proses pemindahan dapat dilakukan lebih cepat dan stabil—tanpa harus menunggu tambahan tenaga—maka peluang untuk mempertahankan kondisi korban sebelum tiba di fasilitas medis menjadi lebih besar.
Beberapa pihak menilai bahwa penguatan sistem evakuasi berbasis efisiensi personel dapat menjadi bagian dari reformasi respons bencana nasional.
Menuju Penguatan Sistem
Indonesia telah menunjukkan komitmen besar dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana melalui BNPB, Basarnas, serta peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Namun, dinamika risiko bencana yang terus meningkat menuntut inovasi berkelanjutan, termasuk pada tahap evakuasi awal.
Pembahasan mengenai transfer teknologi dan pelatihan melalui skema kerja sama internasional—termasuk kemungkinan dukungan ODA—juga mulai menjadi bagian dari diskursus penguatan kapasitas.
Bencana tidak dapat dihindari sepenuhnya.
Namun, meningkatkan efisiensi dan keamanan proses evakuasi dapat menjadi langkah konkret untuk menekan angka korban jiwa di masa depan.
