449
Apa itu ‘Superflu’? Varian Turunan H3N2 ‘Subclade K’
Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, superflu bukan nama penyakit baru, melainkan istilah nonresmi untuk menyebut wabah flu yang berkaitan dengan kelompok sub-varian virus influenza A (H3N2) yang disebut Subclade K.
Dalam beberapa bulan terakhir, varian ini dilaporkan sebagai strain flu yang dominan di sejumlah wilayah di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. Di New York City saja, diperkirakan sekitar 71 ribu kasus infeksi terjadi hanya dalam waktu satu minggu, sehingga menimbulkan kekhawatiran terkait kecepatan penularannya.
NBC News pada 31 Desember 2025, mengutip data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, memberitakan bahwa jumlah penderita flu pada musim ini telah mencapai sekitar 7,5 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 81 ribu orang menjalani perawatan di rumah sakit dan 3.100 orang meninggal dunia, termasuk 8 anak.
Tim peneliti CDC pertama kali mengidentifikasi Subclade K pada Juni 2025. Di sejumlah negara seperti Inggris dan Norwegia, musim flu juga tercatat mulai 4–5 minggu lebih awal dari biasanya, sehingga gelombang kali ini tampak lebih agresif. Namun para ilmuwan menegaskan bahwa virus influenza memang dikenal sangat mudah bermutasi, dan hingga kini belum ditemukan tanda-tanda evolusi yang tidak normal terkait varian ini.
62 Kasus di 8 Provinsi Indonesia… “Perlu Waspada, Tapi Jangan Panik”
Di Indonesia, kasus yang berkaitan dengan superflu sudah mulai terdeteksi. Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa berdasarkan hasil analisis sekuensing genom yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, kasus terkait superflu telah terpantau melalui sistem surveilans ILI-SARI nasional sejak Agustus 2025.
Per 4 Januari 2026, tercatat 62 kasus terkonfirmasi di 8 provinsi, dengan jumlah kasus terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Pihak Kemenkes menjelaskan bahwa saat ini pemerintah berada pada tahap meningkatkan kewaspadaan dan penguatan pemantauan, seraya menegaskan:
“Kita perlu tetap waspada, tetapi tidak perlu panik. Kelompok berisiko tinggi seperti lansia, penderita penyakit penyerta, dan ibu hamil harus lebih berhati-hati dan segera memeriksakan diri jika muncul gejala.”
Gejalanya Mirip Flu Biasa, Tapi Penularan dan Keparahan Lebih Tinggi
Menurut keterangan Rumah Sakit Mitra Keluarga, gejala superflu umumnya muncul 2–3 hari setelah paparan dan berkembang cukup cepat. Gejala yang banyak dilaporkan antara lain:
-
Demam tinggi hingga 39–40°C,
-
Batuk kering yang terus-menerus selama beberapa hari,
-
Sakit kepala, nyeri otot, menggigil, dan rasa lelah yang berat,
-
Hidung tersumbat atau berair serta penurunan nafsu makan,
-
Nyeri pada mata, mata berair, dan sensitivitas terhadap cahaya terang.
Pada anak-anak, gejala tersebut dapat muncul secara bersamaan dan kadang disertai keluhan tambahan seperti muntah atau sakit perut.
Dibandingkan flu musiman biasa, varian superflu ini dinilai memiliki daya tular dan tingkat keparahan gejala yang lebih tinggi. Satu orang yang terinfeksi diperkirakan dapat menularkan penyakit ke lebih dari dua orang, dan sebagian pasien masih merasakan kelelahan berat atau lemas dalam waktu cukup lama meski demam sudah turun.
Bandara Ngurah Rai di Bali Aktifkan Kembali 25 Kamera Thermal
Meningkatnya jumlah kasus mendorong penguatan pengawasan di pintu-pintu masuk internasional. Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali kembali mengoperasikan sistem pemantauan suhu tubuh untuk mengantisipasi masuknya penumpang yang terinfeksi superflu.
Pihak pengelola bandara memasang ulang sekitar 25 kamera thermal yang sebelumnya digunakan saat pandemi COVID-19. Perangkat tersebut ditempatkan di jalur kedatangan dan keberangkatan, baik internasional maupun domestik.
Seorang perwakilan bandara menjelaskan:
“Jumlah penumpang di sini sangat besar, sehingga skrining awal berbasis deteksi demam adalah langkah paling realistis. Sampai saat ini belum ditemukan kasus suspek superflu yang terdeteksi langsung di bandara.”
Bandara Ngurah Rai melayani rata-rata sekitar 66 ribu penumpang per hari. Pengelola bandara bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, otoritas karantina, dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk memantau perkembangan situasi. Hingga kini, langkah yang diambil masih berada pada tingkat kewaspadaan preventif, tanpa penerapan protokol pembatasan khusus.
Cuci Tangan, Masker, Istirahat… Protokol Dasar Masih Jadi Tameng Terbaik
Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk kembali menegakkan protokol kesehatan dasar dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
-
rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir,
-
menggunakan masker ketika mengalami gejala batuk atau pilek,
-
menjaga etika batuk yang benar,
-
cukup tidur dan beristirahat,
-
menjaga pola makan seimbang serta rutin berolahraga.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada kasus superflu yang dikonfirmasi di Jakarta, namun pemerintah daerah telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi jika situasi berubah.
Pihak Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa situasi ini harus menjadi pengingat bahwa influenza bukanlah “sekadar flu ringan”.
“Yang terpenting adalah tetap tenang, mengandalkan informasi resmi, dan tidak mudah terbawa isu yang tidak jelas sumbernya. Dengan memegang informasi yang benar dan disiplin menjalankan langkah pencegahan sederhana, kita bisa mengurangi risiko penularan secara signifikan,” ujar salah satu pejabat Kemenkes.
